Independen News

Lawan Kanker dan Autoimun, Dosen UPER Kembangkan AI Pengidentifikasi Protein​

​JAKARTA,VARIAINDEPENDEN.– Tantangan kesehatan global, khususnya penyakit kronis seperti kanker dan autoimun, kian mendesak untuk segera diatasi. Di Indonesia, data Kementerian Kesehatan tahun 2025 mencatat lebih dari 400 ribu kasus baru kanker setiap tahunnya. Sementara itu, penderita autoimun telah mencapai angka 2,5 juta jiwa pada 2023.
​Menanggapi urgensi tersebut, Dr. Meredita Susanty, M.Sc., dosen Ilmu Komputer Universitas Pertamina (UPER), menginisiasi terobosan melalui teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) bernama BiCaps-DBP. Inovasi hasil kolaborasi riset internasional ini dirancang untuk mengakselerasi penemuan kandidat obat melalui identifikasi protein pengikat DNA (DNA-binding proteins/DBPs).

​Memangkas Waktu Riset dari Belasan Tahun 
Jadi Lebih Singkat

​Selama ini, proses mengidentifikasi protein yang berperan dalam aktivitas gen dan perbaikan kerusakan DNA dilakukan secara manual di laboratorium. Namun, tantangannya luar biasa: tubuh manusia memiliki jutaan jenis protein.
​“Mengidentifikasi protein pengikat DNA secara manual membutuhkan waktu belasan tahun dan biaya yang sangat besar. BiCaps-DBP hadir sebagai teknologi penyaring untuk membantu peneliti menyempitkan daftar protein yang paling potensial,” ujar Dr. Meredita dalam keterangan tertulisnya.
​Dengan menyaring kandidat protein yang benar-benar relevan, teknologi ini tidak hanya menghemat anggaran riset, tetapi juga mempercepat penemuan diagnosis dini dan terapi presisi bagi pasien.

​Akurasi yang Melampaui Metode Lama

​Dalam pengembangannya, Dr. Meredita memastikan keandalan analisis komputasi agar data yang dihasilkan akurat dan mudah diinterpretasikan oleh tenaga medis. Hasilnya signifikan: BiCaps-DBP mampu meningkatkan akurasi prediksi sebesar 1,05% hingga 5,79% dibandingkan metode yang ada sebelumnya.

​Keunggulan ini telah diakui dunia internasional melalui publikasi di jurnal bereputasi Computers in Biology and Medicine (Elsevier). Riset ini sekaligus membuktikan bahwa kolaborasi lintas disiplin antara ahli komputer, biologi, dan medis adalah kunci masa depan kesehatan.
​"Model komputasi ini tidak menggantikan peran laboratorium, melainkan menjadi kompas bagi peneliti untuk mengetahui kombinasi protein mana yang paling layak diuji lebih lanjut," tambah Meredita.
​Kontribusi Nyata Pendidikan Tinggi untuk Kesehatan

​Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., menegaskan bahwa inovasi ini merupakan bukti nyata peran kampus dalam mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) poin ketiga, yakni Kehidupan Sehat dan Sejahtera.
​“Kami mengarahkan program studi Ilmu Komputer agar tidak sekadar berfokus pada aspek teknis, tetapi mampu menghasilkan solusi nyata bagi persoalan masyarakat, termasuk di sektor kesehatan dan biofarmasi,” kata Prof. Wawan.

​Bagi generasi muda yang ingin berkontribusi dalam dunia AI dan teknologi medis, Universitas Pertamina membuka peluang bergabung melalui Program Studi Ilmu Komputer. Informasi lengkap mengenai pendaftaran dapat diakses melalui laman resmi pmb.universitaspertamina.ac.id

Type and hit Enter to search

Close