Jawa Barat hari ini sedang mengalami fenomena disorientasi peran yang mengkhawatirkan. Di tengah karut-marut persoalan sistemik—mulai dari sulitnya akses lapangan kerja hingga ketimpangan ekonomi yang makin lebar—kita justru disuguhi tontonan mikro yang dikemas sedemikian rupa sebagai aksi kepahlawanan. Tokoh publik sekaliber Dedy Mulyadi, misalnya, tampak lebih asyik mengurusi pedagang es di pinggir jalan daripada membedah akar masalah yang mencekik rakyat banyak.
Sebagai bagian dari kontrol sosial, DPW LSM HARIMAU Jawa Barat merasa perlu melayangkan kritik terbuka. Kita harus berani bertanya: Apakah yang kita saksikan adalah kepemimpinan yang tulus, atau sekadar teatrikal kemiskinan demi kepentingan algoritma?
1. Eksploitasi Kemiskinan Demi Angka Digital
Kita hidup di era di mana "penderitaan" bisa menjadi komoditas politik yang menggiurkan. Menjadikan rakyat kecil sebagai "properti konten" dengan latar musik yang menyayat hati adalah pola lama yang dikemas baru. Pertanyaannya, apakah empati itu benar-benar murni jika setiap tetes air mata harus terekam kamera demi menaikkan elektabilitas? Jangan sampai rakyat hanya dijadikan alat untuk mendulang likes dan subscribers sementara nasib mereka tidak berubah secara struktural.
2. Disorientasi Peran: Pemimpin Bukan Relawan
Ada batas tegas antara seorang Regulator dan Filantropis. Tugas utama seorang pemimpin atau tokoh publik yang memiliki pengaruh politik adalah menciptakan kebijakan (sistem) yang adil agar tidak ada lagi rakyat yang perlu mengemis di jalanan. Jika seorang tokoh hanya sibuk membagikan bantuan secara seremonial—tugas yang sebenarnya bisa dilakukan oleh relawan atau lembaga amal—maka ia sedang mengalami disorientasi peran. Pemimpin seharusnya memperbaiki saluran air agar tidak banjir, bukan sekadar membagikan ember saat rumah warga terendam.
3. Solusi Semu yang Meninabobokan
Menolong satu orang di depan kamera memang terlihat indah secara visual, namun itu adalah solusi semu. Aksi tersebut tidak akan mengubah nasib jutaan rakyat lainnya yang mengalami nasib serupa namun tidak beruntung "masuk kamera". Yang dibutuhkan Jawa Barat adalah perubahan struktur ekonomi dan sosial, bukan sekadar drama sedekah di pinggir jalan yang bersifat karitatif dan sementara.
Kesimpulan: Rakyat Butuh Sistem, Bukan Panggung
Kami di LSM HARIMAU Jawa Barat mengingatkan seluruh lapisan masyarakat agar tidak terbuai dengan visualisasi "merakyat" yang sebenarnya menjebak. Estetika kemiskinan tidak boleh menutupi substansi kegagalan sistemik. Rakyat butuh keadilan yang sistematis, bukan pemimpin yang sibuk mencari panggung di atas penderitaan orang kecil.
Jangan biarkan politik kita turun kelas menjadi sekadar konten media sosial. Saatnya kita menuntut kerja nyata yang berdampak luas, bukan sekadar teatrikal yang menguras emosi namun kosong esensi.
Salam Pergerakan!
Bandung, 31 Januari 2026
Social Footer