Pembangunan ini menemui hambatan besar ketika mencapai wilayah Sumedang, tepatnya di sebuah bukit cadas yang sangat keras dan curam.
1. Penderitaan Rakyat Sumedang
Daendels memerintahkan rakyat Sumedang untuk membelah gunung batu tersebut secara paksa (kerja rodi). Tanpa peralatan yang memadai—hanya menggunakan pahat dan palu tradisional—ribuan nyawa melayang akibat kelaparan, penyakit, dan kelelahan yang luar biasa. Cadas yang keras menjadi saksi bisu tetesan keringat dan darah warga setempat.
2. Keberanian Pangeran Kornel
Mendengar penderitaan rakyatnya, penguasa Sumedang saat itu, Pangeran Kusumadinata IX (yang lebih dikenal sebagai Pangeran Kornel), tidak tinggal diam. Beliau datang langsung ke lokasi proyek untuk menghadapi Daendels.
Di sinilah terjadi peristiwa ikonik yang menjadi simbol harga diri bangsa:
- Jabat Tangan Tangan Kiri: Pangeran Kornel mengajak Daendels bersalaman menggunakan tangan kiri.
- Siap Bertempur: Sementara tangan kirinya bersalaman, tangan kanan Pangeran Kornel tetap memegang hulu Keris Naga Sasra yang terselip di pinggangnya.
Makna dari tindakan ini sangat dalam: Pangeran Kornel ingin menunjukkan bahwa meskipun ia menghormati Daendels sebagai tamu/pejabat, ia tidak takut mati dan siap melawan jika Daendels terus bertindak semena-mena terhadap rakyat Sumedang.
3. Melunaknya "Mas Galak"
Melihat keberanian dan ketegasan Pangeran Kornel yang siap mempertaruhkan nyawa, Daendels yang biasanya kejam justru merasa gentar dan kagum. Ia menyadari bahwa jika ia terus menekan, akan terjadi pemberontakan besar di tanah Sumedang.
Akhirnya, Daendels mengubah strateginya:
- Ia mengerahkan pasukan zeni tempur Belanda.
- Penggunaan bahan peledak mulai dilakukan untuk menghancurkan batu cadas yang keras.
- Beban kerja rakyat sedikit berkurang karena bantuan peralatan yang lebih memadai dari militer kolonial.
Warisan Budaya dan Simbol Perlawanan
Hingga hari ini, peristiwa tersebut diabadikan dalam bentuk Patung Cadas Pangeran yang memperlihatkan Pangeran Kornel bersalaman dengan Daendels. Nama wilayah tersebut pun diubah menjadi "Cadas Pangeran" untuk menghormati jasa dan keberanian sang pangeran.
Bagi masyarakat Jawa Barat, kisah ini bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan simbol perlawanan terhadap penindasan dan bukti bahwa martabat bangsa harus tetap ditegakkan, bahkan di hadapan penguasa yang paling ditakuti sekalipun.
Red
Social Footer